31 Desember 2012

Fluorescence

Dari Fakultas Ilmu Budaya

Kepada Fakultas Hukum.
"Jangan pergi dari cintaku, biar saja tetap denganku, biar semua tahu adanya, dirimu memang punyaku." Anda - Menghitung Hari.
Aku menulis ini, ketika lamat-lamat suara Anda mengalun merdu seantereo ruang kamarku. Bukan tanpa alasan kutulis hal ini. Aku sekarang hanya tengah terjerat oleh satu "fluorescence" dalam kata lain; Kau.

Kau harus tahu, mati-matian aku mencari istilah itu, kata yang menurutku menggambarkan keseluruhan tentang kau. Anggap aku bodoh, gila, atau idiot. Terserah! bagiku kata-kata semacam itu sudah jadi nama tengahku. Apa lagi setelah berkali-kali kulontarkan ungkapan-ungkapan yang sama, dan dibalas dengan jawaban yang sama pula olehmu: penolakan!

Aku tak bisa seratus persen menyalahkan engkau, dan aku pun tak mau jika hanya menyalahkan diriku sendiri. Perasaan ini bertumbuh begitu saja, aku bahkan tak tahu dimulai sejak kapan tunasnya menyembur keluar. Yang kutahu, tunas itu selalu mengarah di engkau. Mungkin penyebab tunas itu tumbuh bukan karena perjumpaan kita, tapi karena keusilan semesta, sehingga percuma menyalahkan siapa-siapa.

Bukan tak pernah kucoba memunggungimu, memberi racun pada tunas itu. Tapi semua sia-sia, punggungmu menjadi tempat mata ini menuju dan tunas itu makin liar menjalar bahkan akarnya mencengkram kuat neuron di syaraf-syaraf otakku.

Yap, sebut aku seperti anak-anak. Terserah! Tapi di sini aku punya luka yang kronis akibat patah hati. Setiap saat aku merasa ada darah (bahkan nanah) yang mengucur keluar dari luka itu. Sepertinya ia telah mengalami pembusukan, sehingga harus diamputasi dan ditransplantasi dengan yang baru adar aku bisa kembali normal.

Aku di sini dibuat kelelahan akibat menunggu, apa kau tak punya perasaan? Bisa kaubayangkan rasanya jadi aku? Yang berupaya sekuat mungkin bertingkah "sok" di depanmu! "sok" yang tercipta karena pembohonganku terhadap diriku sendiri. Lihat! Aku mulai mendramatisir. Mau bagaimana lagi, walau konyol adanya tapi itu yang kurasa.

Sulit mengendalikan perasaan. Prasaan itu proses psikis yang tak bisa dikendalikan, atau yang hanya sebagian saja bisa diarahkan. catatat itu! Kau dulu pernah bilang, bahwa cinta adalah penyemangat, hal wajar pun normal, penyebab kita kehabisan tenaga, juga pencipta dari kata kolot: "Aku akan selalu bersamamu, sampai maut memisahkan kita."

Jangan tanyakan padaku seperti apa itu cinta, atau ada berapa macamnya? Bahkan Plato, Sigmud Freud, atau Charlie Brown--Para pemikir kelas berat seperti mereka, menjadikan cinta sebagai pertimbangan serius selama bertahun-tahun. Maaf, aku membawa-bawa nama pemikir-pemikir hebat itu, biar jadi bukti seberapa kerasnya aku memikirkan tentang kau!

Laksana lirik akhir pada lagu Anda itu, kau harus mendengarnya pun memaknainya. Agar kau pahami sudah berapa hari kuhitung hanya untuk sekedar mendapat kata "Iya" darimu. Aku bahkan sering bertanya-tanya, makluk macam apa yang bisa sebegitu kucintai sampai terluka-luka begini?
"Belum pernah kujatuh cinta, sekeras ini seperti padamu, jangan sebut aku lelaki, bila tak bisa dapatkan engkau."

Pengikut

Label

Wikipedia

Hasil penelusuran