Kepada Fakultas Hukum.
"Jangan pergi dari cintaku, biar saja tetap denganku, biar semua tahu adanya, dirimu memang punyaku."— Anda - Menghitung Hari.
Aku
menulis ini, ketika lamat-lamat suara Anda mengalun merdu seantereo
ruang kamarku. Bukan tanpa alasan kutulis hal ini. Aku sekarang hanya
tengah terjerat oleh satu "fluorescence" dalam kata lain; Kau.
Kau
harus tahu, mati-matian aku mencari istilah itu, kata yang menurutku
menggambarkan keseluruhan tentang kau. Anggap aku bodoh, gila, atau
idiot. Terserah! bagiku kata-kata semacam itu sudah jadi nama tengahku.
Apa lagi setelah berkali-kali kulontarkan ungkapan-ungkapan yang sama,
dan dibalas dengan jawaban yang sama pula olehmu: penolakan!
Aku
tak bisa seratus persen menyalahkan engkau, dan aku pun tak mau jika
hanya menyalahkan diriku sendiri. Perasaan ini bertumbuh begitu saja,
aku bahkan tak tahu dimulai sejak kapan tunasnya menyembur keluar. Yang
kutahu, tunas itu selalu mengarah di engkau. Mungkin penyebab tunas itu
tumbuh bukan karena perjumpaan kita, tapi karena keusilan semesta,
sehingga percuma menyalahkan siapa-siapa.
Bukan tak
pernah kucoba memunggungimu, memberi racun pada tunas itu. Tapi semua
sia-sia, punggungmu menjadi tempat mata ini menuju dan tunas itu makin
liar menjalar bahkan akarnya mencengkram kuat neuron di syaraf-syaraf
otakku.
Yap, sebut aku seperti anak-anak. Terserah!
Tapi di sini aku punya luka yang kronis akibat patah hati. Setiap saat
aku merasa ada darah (bahkan nanah) yang mengucur keluar dari luka itu.
Sepertinya ia telah mengalami pembusukan, sehingga harus diamputasi dan
ditransplantasi dengan yang baru adar aku bisa kembali normal.
Aku
di sini dibuat kelelahan akibat menunggu, apa kau tak punya perasaan?
Bisa kaubayangkan rasanya jadi aku? Yang berupaya sekuat mungkin
bertingkah "sok" di depanmu! "sok" yang tercipta karena pembohonganku
terhadap diriku sendiri. Lihat! Aku mulai mendramatisir. Mau bagaimana
lagi, walau konyol adanya tapi itu yang kurasa.
Sulit
mengendalikan perasaan. Prasaan itu proses psikis yang tak bisa
dikendalikan, atau yang hanya sebagian saja bisa diarahkan. catatat itu! Kau
dulu pernah bilang, bahwa cinta adalah penyemangat, hal wajar pun
normal, penyebab kita kehabisan tenaga, juga pencipta dari kata kolot:
"Aku akan selalu bersamamu, sampai maut memisahkan kita."
Jangan
tanyakan padaku seperti apa itu cinta, atau ada berapa macamnya? Bahkan
Plato, Sigmud Freud, atau Charlie Brown--Para pemikir kelas berat
seperti mereka, menjadikan cinta sebagai pertimbangan serius selama
bertahun-tahun. Maaf, aku membawa-bawa nama pemikir-pemikir hebat itu, biar jadi bukti seberapa kerasnya aku memikirkan tentang kau!
Laksana
lirik akhir pada lagu Anda itu, kau harus mendengarnya pun memaknainya.
Agar kau pahami sudah berapa hari kuhitung hanya untuk sekedar mendapat
kata "Iya" darimu. Aku bahkan sering bertanya-tanya, makluk macam apa
yang bisa sebegitu kucintai sampai terluka-luka begini?
"Belum pernah kujatuh cinta, sekeras ini seperti padamu, jangan sebut aku lelaki, bila tak bisa dapatkan engkau."