8 April 2015

Dialogmonolog #2



Dalam Momen Autis di kepalaku...

M.I: Cilupba! Door! Kaget ya?
RFM: (Hhmm… dia lagi!)
M.I: Kaget kan? Kaget kan?
RFM: (Biar dia senang aku bilang aja kalau aku kaget) Iya, aku kaget.
M.I: Kaget, kok biasa gitu?
RFM: Jadi harus gimana? Harus keluar dulu dua bijik mataku ini?
M.I: Ha? Jangan jangan! Bukan gitu, kamu kan bisa pura-pura kaget, apa salahnya?
RFM: (Aku kan udah pura-pura kaget!!!)
M.I: Maaf deh, aku ganggu lagi, aku juga nggak ngerti kenapa hasrat untuk ganggu kamu itu besar sekali.

RFM: Mari kita buat jadi sederhana. Apa tujuanmu?
M.I: Itu yang mau kutanyakan.
RFM: Ha?!
M.I: Iya, aku tak pernah dapat jawabannya. Kadang aku merasa iri dengan Archimedes, dia punya pertanyaan dan masalah bagaimana caranya menghitung volume benda yang bentuknya tak beraturan. Ia merenung di dalam bak sewaktu mandi. Dan tahu-tahu—eurika!—ia temukan jawabannya. Sedang aku, sudah berulang kali merenung di bak mandi, melamun di atas water closet duduk, tapi pertanyaanku tak urung dapat jawaban. Aku kesal.

RFM: Sabar ya… setiap pertanyaan selalau berpasangan dengan jawabannya, mungkin perlu waktu sedikit lebih lama.

M.I: Nah! Diwaktu yang sedkit lebih lama itu boleh ya, kalau aku ganggu kamu. Sampai kutemukan jawaban.

RFM: Hhmmm…
M.I: Diammu kuanggap ‘iya’.
RFM: Sebenarnya kamu ini apa?
M.I: Kamu ini apa?
RFM: Iya, apanya kamu ini?
M.I: Iya, apanya yang kamu ini?
RFM: Terserah!
M.I: Mungkin aku ini orang yang putus asa sekaligus mencinta.
RFM: Putus asa pada apa?
M.I: Keadaan.
RFM: Mencinta siapa?
M.I: Kamu!
RFM: Coba jelaskan.
M.I: Kujelaskan pun kamu nggak bakalan ngerti.
RFM: Belum coba mana bisa tahu.
M.I: Kamu sudah dengarkan ceritaku yang sebelumnya? Bahwa dalam jantungku ini setia tertabung cinta, kasih, dan pengharapan. Ketiganya menumpuk sampai membuat jantunggku sesak! Seperti balon jika terus diisi angin akan pecah. Aku khawatir jantungku akan pecah.

RFM: Bagaimana mungkin?
M.I: Coba kamu pahami perlahan-lahan kata-kataku tadi. Ketiga hal yang menumpuk itu perlu dibagi. Agar tak terus-terusan sesak dadaku. Tapi aku bingung, pada apa atau siapa? Objek atau wadah apa yang bisa menampungnya? Sampai aku bertemu kamu.

RFM: Hari ini kamu lebih ngaur daripada kemarin!
M.I: Terserah, kamu mau bilang apa. Tapi dalam diriku ada dorongan seperti sesuatu dalam alam bawah sadar yang minta disadarkan. Aku inginkan kamu jadi pemicunya.

RFM: Yang benar aja, kalau kamu inginkan itu sama aku. Itu nggak mungkin! Kamu mau dibakar?

M.I: Heyy! Bukan karena aku cinta sama kamu, lantas aku mau main gila sama kamu! Kalau saja kamu mau paham, cinta yang kupunya tidak serendah itu. Jangan samakan ini dengan hubungan indrawi laki-laki dan perempuan. Demi Dia Yanga Mahasuci. Demi Dia Yang Mahamengerti. Tolong kamu jangan salah arti.

RFM: Hhmm…
M.I: Kenapa sih, sulit sekali buat kamu paham. Andai kamu bisa ikut rasakan betapa tersiksanya aku. Betapa cinta, kasih, dan pengharapan itu mendesak-desak jantungku. Sebelum bertemu denganmu sebenarnya perasaan itu telah kurasakan; perasaan mendamba sekaligus merindu entah kepada apa atau siapa. Namun, saat aku bertemu kamu, saat kita berdekatan, damba dan rinduku tuntas! Kamu tahu, betapa menakjubkannya damba dan rindu yang tuntas itu.

RFM: Baik.. baik, kamu terlalu banyak bicara. Sekarang apa yang harus kulakukan?
M.I: Sederhana saja, kamu cukup di dekatku. Tertawa lepas di depanku. Jangan canggung denganku. Jadikan aku tempatmu bercerita. Jadikan aku tempatmu berbagi rahasia. Anggap aku adalah dirimu, sebagaimana aku menganggap kamu adalah diriku.  Itu saja.

RFM: Permintaanmu terlalu banyak. Sulit-sulit pula.
M.I: Aku mohon…
RFM: Sudah-sudah, kamu jangan nyembah-nyembah begitu, terlalu lebay tauuu!
M.I: Aku kehabisan cara buat kamu yakin.
RFM: Tapi aku khawatir, setelah itu semua kulakukan dan kamu tahu siapa aku. Kamu malah akan menjauh, akan jijik denganku?

M.I: Demi Dia Yang Mahabijaksana. Cinta yang kupunya tak menuntut sebab, bukan karena fisikmu, bukan kebaikanmu, atau karena kamu makhluk sempurna. Aku tak pernah pikirkan itu, dan mana ada dari kita yang sempurna? Aku pun miliki cacat di sana-sini, malah aku yang ketakutan setengah mati, kalau-kalau kamu yang akan menjauh.

RFM: Tubuh dan kesadaran kita selalu inginkan jumlah atau kuantitas yang pas. Otak kita juga inginkan yang pas tanpa cacat. Otak kita menyukai sesuatu yang durasinya sesuai takaran, tidak melelahkan, juga tidak terlalu cepat, jika tak mendapatkannya otak bisa saja bosan. Aku tak bisa jamin dengan perkataanmu itu, bahwa kamu tak akan bosan denganku, begitu pun sebaliknya.

M.I: Serupa yang kamu bilang: belum coba, mana bisa tahu. Kamu juga bosankan dengan teori-teori manusia yang mengekang? Mari sejenak saja kita lupakan asumsi-asumsi itu.

RFM: Gila... bagaimana bisa yang indah-indah seperti cinta, kasih, dan pegharapan malah sebegitu mengancam?!

M.I: Adakah keindahan itu terukur? Adakah keindahan itu harus bernama?
RFM: Keindahan yang memberikan kita kenikmatan. Ia merambah aspek kognitif, afektif, dan indrawi. Mata, hidung, dan telinga yang menangkap keindahan itu. Namanya, keindahan indrawi.

M.I: Maka ingin kuabaikan keindahan indrawi itu. Denganmu ingin kutemukan keindahan yang tak terbilang bahkan tak terjelang. Bersediakah?

RFM: Sejujurnya, aku menyimpan kekahwatiran dan takut. Adakah ini akan berhasil?

M.I: Maka aku berdoa semoga mampu kita atasi rasa khawatir dan takut. Semoga Dia tuntun kita seperti mentatih bayi, sebab Dia Mahapenuntun. Sebab Dia Mahamemaklumi. Sebab Dia Mahamengerti.

Begitulah…. waktu mengurung mereka, sementara Kitab Takdir terus dinubuatkan, Surat Takdir terus dikirimkan dan dibacakan. Berulang kali, tanpa henti, tanpa didengar, tanpa dimengerti, tanpa disadari…

Pengikut

Label

Wikipedia

Hasil penelusuran