12 Februari 2016

Pelangi di Langit Senja Kota Medan

Di hari yang telah ditentukan dua cahaya turun menyinggahi sebuah rumah. Alangkah terang cahaya itu dan tak mungkin mereka langsung menampakkan wujud yang mata pun tak sanggup menatapnya. Pada keduanya jelma menjadi sosok yang kasat mata. Kedua cahaya serapi apa pun disembunyikan tetap tak dapat tutupi kilaunya.
Mereka datang, mengetuk pintu. Manusia terpilih menyambut. Ada rasa bahagia, tapi ada pula gusar dan khawatir. Kedua tamu ini istimewa. Mereka mestilah dijamu dengan jamuan terbaik. Dan paling penting, tak ada yang boleh mengganggu. Sebab pesan dari keduanya akan menentukan bagaimana kisah ini berakhir. Namun, lantaran cahaya yang terang kendati telah jelma dua sosok--kedatangan keduanya memancing keingintahuan banyak orang. Cahaya telah membangkitkan hasrat. Hasrat? Bisakah kita hanya digerakkan olehnya? Bisakah beberapa saat saja kita terlupa. Siapa engkau, siapa aku. Siapa siang. Siapa malam. Bisakah kita tak perlu memakai nama? Bisakah kita tanggalkan segala identitas pada tubuh ini. Dan hanya bergerak mengikuti hasrat. Bisakah?
Sang pemilik rumah menghalangi. Orang-orang begitu memaksa. Bahkan pintu berniat dirobohkan. Tuan rumah memberi penawaran. Mengorbankan anak perempuannya sebagai pengganti. Betapa berharganya kedua tamu itu, sebab anaknya sendiri rela dia jadikan pengganti. Orang-orang tak peduli, mereka inginkan yang sempurna, setiap kita ingin yang sempurna. 
Lalu kita semua tahu bagaimana kisah ini berakhir.
Dalam literatur kitab-kitab suci, kita dapat menjumpai kisah kaum Sadum-Gomorrah. Nama Nabi Luth disebut 27 kali dalam Al-Quran. Lebih detail silahkan buka Al-Qurannya masing-masing. Pun di Alkitab ada pada Roma 1: 26-27 juga di Genesis atau Kejadian 19.
Ditinjau dari beberapa agama peraktik LGBT jelas dilarang. Dalam perspektif fikih sikap islam menaggapi masalah Homoseksual dan Lesbian pun jelas melarang. Tapi itu dari aspek agama, sebab ada pula yang tak beragama. Yang tak beragama sudah tentu tak lantas percaya. Bagi saya sendiri, agama adalah dasar. Tempat berpijak, landasan hidup. Tapi tak salah pula jika kita bersikap terbuka untuk yang lain kan? Tak lain agar kita tak memiliki pemikiran sempit dari satu sudut pandang saja.
Kalau berbicara tentang budaya, budaya dari manakah LGBT itu? Eropa? Banyak yang menyangka demikian. Tapi mari kita lihat budaya di Indonesia. Dari beragam sumber yang saya telusuri, praktik LGBT atau yang menyerupai, ternyata ada dalam budaya Indonesia. Sebuah hubungan homoseksual tradisional tertentu ada didapati  di Jawa Timur dalam hubungan Warok-Gemblak. Warok adalah pahlawan lokal tradisional Jawa atau "orang kuat" yang biasanya melakukan kesenian tradisional Reog Ponorogo. Menurut tradisi, warok diwajibkan untuk melakukan pantangan, ia dilarang untuk terlibat dalam hubungan seksual dengan perempuan, namun berhubungan seks dengan laki-laki yang berusia 8 sampai dengan 15 tahun diperbolehkan. "Kekasih muda" disebut gemblak dan biasanya disimpan oleh warok dalam rumah tangga mereka di bawah perjanjian dan kompensasi kepada keluarga anak itu. Warok dapat menikah dengan seorang wanita sebagai istri mereka, tetapi mereka mungkin tetap memiliki gemblak. Hal ini menyebabkan hubungan Warok-Gemblakan mirip dengan tradisi perjantanan di Yunani kuno. Siapa saja yang mengenal cara hidup tradisional di Ponorogo, tahu bahwa ada pria yang lebih tua yang disebut warok, tidak berhubungan seks dengan istri-istri mereka, tetapi berhubungan seks dengan anak laki-laki yang lebih muda. Mungkin yang dilakukan warok dan gemblak adalah tindakan homoseksual, namun mereka tidak pernah mengidentifikasi diri mereka sebagai seorang homoseksual.
Kini praktek Warok-gemblakan tidak disarankan oleh pemuka agama setempat dan ditentang melalui perlawanan moral publik. Karena hal itulah, sekarang pagelaran Reog Ponorogo jarang sekali menampilkan gemblak, anak laki-laki tampan, sebagai penunggang kuda Jatil, peran mereka digantikan oleh anak perempuan. Meskipun mungkin saat ini praktek warok-gemblakan ini masih ada dan dilakukan secara diam-diam. 
Tidak hanya Warok-Gemblak tetapi ada juga beberapa budaya yang mendukung Homoseksualitas pada ratusan tahun yang lalu seperti Bissu, Calabai dan Calalai, serta Ritual inseminasi anak laki-laki Papua. Dari sana saja bisa kita ambil kesimpulan, bukan cuma berasal dari Eropa atau barat, LGBT ternyata terimplikasi dalam budaya lokal di Indonesia. Mengerikan? Mungkin. 
Tapi dari sini budaya pun bisa rancu. Tak ditutup kemungkinan tak ada yang benar-benar asli dari kebudayaan itu. Bisa saja antar kebudayaan saling mempengaruhi. Atau saling comot-mencomot. Bisa pula suatu kebudayaan bertahan dengan bentuk aslinya, atau malah berubah sesuai zaman. Sekali lagi dari sini budaya pun bisa rancu.
             Sedang dari segi Medis, ada isu kalau para pengususng lambang Pelangi--LGBT itu bisa menular. Menular dari mana? Gaya hidup, pergaulan, atau persetubuhannya? Lagi-lagi dari sumber yang saya cari, pada dasarnya setiap janin berkelamin perempuan. Masuk masa 8 minggu, janin berkembang dan melalui berapa factor dan proses janin itu bisa tumbuh berjenis kelamin laki-laki. Dikatakan pula kecenderungan orientasi seks seseorang telah ditentukan dalam sistem atau struktur dalam otaknya sendiri. Dan di sinilah kita diuji untuk bagaimana bersikap atas itu. Mereka yang bisa menjadi LGBT cenderung telah memiliki “bakat” itu di dalam struktur otaknya. “Bakat” tadi dapat tergunakan, digunakan, atau tidak sama sekali. Jika sudah punya “bakat” Homoseksual, terus bergaul dengan para Homoseksual, jadilah dia pribadi yang benar-benar Homoseksual. Nah, di sini dituntut si pemilik “bakat” bersikap atas “bakat” yang ada dalam struktur otaknya.
            Kita semua tahu, segalanya telah Dia tentukan. Dia memberikan hidayah pada siapa yang dikehendakinya, memberi musibah pada siapa juga yang dikehendakinya. Saya meyakini segalanya telah menjadi ketetapan sang pencipta. Hidup itu adalah memilih—pilihan, Dalam rukun iman ke 6 kita diharuskan  mempercayai bahawa segala yang berlaku adalah ketentuan-Nya semata.  Hidup adalah menjalani ketetapan yang telah ditetapkan. Jadi, masih kah itu sebuah pilihan jika sesungguhnya itu adalah ketetapan? Kita mengambil pilihan dari apa yang sudah ditetapkan? Sejatinya kita tak memilih, kita dipilihkan?
            Dari sedikit pemaparan di atas, ada beberapa pertanyaan mengganjal dalam kepala saya. Yang kit abaca dan ketahui kisah kaum Sadom dan Gomorroh, mengisahkan jika kaum tersebut memaksa Nabi Luth untuk menyerahkan tamunya. Di sana ada unsur pemaksaan. Nah, bagaimana jika kasusnya suka sama suka? Bagaimana kalau keduanya rela melakukan itu tanpa unsur paksaan? Tapi tetap saya ambil sikap, bahwa perbuatan yang terwujud dari hal tersebut adalah kekejian.
            Dari segi budaya ternyata peraktik LGBT ada dalam beberapa budaya Indonesia. Dari medis pula mengatakan bahwa orintasi seksual seseorang telah ditentukan dalam struktur otaknya, alam bawah sadarnya. Tidak pula dapat dikatakan penyakit. Namun, dari sini saya berpikir ke arah yang lebih jauh. Soal berkomitmen, katakanlah menikah. Mau seperti apa masa depan pernikahan dari pasangan gay atau lesbi? Sungguh, otak saya yang kecil ini tak mampu membayangkannya. Siapa yang akan memerankan peran suami/istri? Yang itu bukan lagi bahasan budaya tapi lebih dari itu “kodrat”. Lantas masalah berketurunan? Jelas mereka tidak bisa melakukannya, sel telur butuh sel sperma untuk dibuahi. Sel sperma dengan sel sperma, apa yang mau dibuahinya? Tentu demi mencapai cita-cita berketurunan para pasangan LGBT ini akan menempuh cara lain. Teknologi jadi alternatifnya. Sel sperma dan sel telur memang dapat dibuahi dengan berbagai macam metode. Bisa comot benih dari sana-sini, Bayi Tabung kah? Atau Kloning? Adakah masalah dengan itu? Jelas bagi saya itu masalah! Kita juga tahu apa dampak kloning bagi kelangsungan hidup manusia. Dari salah satu cabang ilmu Filsafat, Aksiologi, Kloning belum dapat diterima sepenuhnya. Bayangkan, benih dipilih-pilih, kemudian “diperam” di tempat sendiri atau sewaan. Manusia diproduksi dengan teknologi, bukan dari manusianya sendiri secara alami. Di sini ada proses yang cenderung rasionalisis, pilih-memilih. Tentu yang dipilih adalah yang bagus-bagus, sedang yang jelek dibuang. Jelas tak ada kasih dan cinta di sana. Tak ada cinta? Mengerikan sekali! Lebih jauh, mari renungkan nasib si anak. Bagaimana dia akan menjalani hidup? Jika dia sadar dari proses keji itulah dia lahir. Apa dalam keluarga gay tak ada ibu, kedua-duanya ayah? Begitu pun keluarga yang lesbi, tak ada ayah, sebab kedua-duanya dipanggil ibu? Sekali lagi, otak saya yang kecil ini tak dapat menjangkaunya.
            Pindah ke persoalan lain. Perasaan. Ketertarikan, kecenderungan yang lahir dari nubuat yang telah diberikan dalam diri. Dari sesuatu yang tersusun oleh struktur otak dan hasrat? Apakah ada jalan lain selain menerima atau berobat? Karena mau diobatin pun itu katanya bukan penyakit. Bagaimana pula dengan mereka yang telah lama berada dalam “alam” tersebut. Yang sebagian kaum mengatakan bahwa itu adalah pelanggaran, kebejatan, kesesatan. Apakah ada jalan pembebasan? Jalan pembebasan yang harus bagaimana? (Konon di beberapa agama ada yang namanya Sang “Penebus”).
            Satu fakta tak terbantahkan, kita semua berbuat dosa! Jadi jangan pernah merasa lebih baik dari yang lain. Yang menganggap dirinya Hetero pun tak lantas merasa diri paling suci dari mereka yang LGBT. Yang Hetero jika malah bias lebih bejat dari yang LGBT ya sama aja. Yang merasa diri paling suci, coba lihat kedalam diri masing-masing, sudah cukup bersihkan diri sehingga merasa layak untuk menghardik atau mencemooh orang lain? Sebab kita bukanlah sang hakim, begitu kan?
            Dan jika ditanya kepada saya, apakah saya pro atau kontra terhadap LGBT?
            Jawaban saya: Saya tak pernah menyalahkan cinta.
            Jawaban saya tak nyambung?
           Baik, begini… Saya meyakini perasaan cintanya tidaklah salah. Yang salah jika cinta itu jelma jadi perbuatan yang tidak pantas. Perasaan itu ibaratnya air, ada saja sampah yang akan mencemarinya, mestilah kita punya penyaring agar perasaan yang sesungguhnya jernih tak jadi kotor. Bagi saya, dia yang mampu bersikap arif atas nubuat yang dititipkan Allah dalam hatinya adalah orang-orang yang memiliki kualitas tinggi. Hatinya layak diperjuangkan. Diperjuangkan oleh yang pantas. Toh, apa salahnya dengan perasaannya itu. Saya punya beberapa teman laki-laki yang saya cintai. Tak jarang saya berikan perhatian lebih pada mereka. Mereka pula jadi sumber inspirasi saya untuk menulis. Tak jarang dalam tulisan saya katakana bahwa saya mencintainya, bahwa saya rindu, bahwa saya cemburu padanya. Terus kenapa? Lihatlah pertemanan Rasulullah dan para sahabatnya. Yang ingin saya katakana adalah, perasaan cinta itu sejatinya menuntun seseorang pada jalan kebaikan, bukan sebaliknya. Jika yang disebut cinta itu malah membuat kamu berbuat yang tidak pantas, hati-hati, itu bukan cinta, barangkali hanya nafsu dan hasrat-hasrat kosong. Cinta tidak salah, tetapi jangan dijadikan ia sebagai pembenaran atas segala perbuatanmu.

Ngomong-ngomong, ketika tulisan ini masih berupa coretan dalam buku. Tadi sore, senja begitu cerah setelah hujan satu harian. Ada lengkung pelangi membumbung di atas langit Kota Medan. 

Indah sekali.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Label

Wikipedia

Hasil penelusuran