3 Maret 2016

Prelude

Biarkan aku berdesir dalam benakku sendiri, menguapkan aneka kabut perasaan yang menyesakkan dada dan membutakan pandangan mata, yang kerap membuatku jatuh tersungkur tak berdaya.
            Aku tak tahan menetap di tempat suram ini
            Aku muak menjalani serangkaian alur yang membatasi
            Tak kupahami
            Kemana harus aku memaki?
Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Bisu. Diam.
***


Kau merangkai paragraf ini ketika malam mendekati pagi. Ketika detak jam adalah yang paling sepi. Ketika denyut jantung dan denyut angin dapat disimak serupa. Pun ketika keheningan adalah kebisingan yang sesungguhnya. Halo, si Pembosan atau harus kaupanggil dia si Penggemar Hujan? Atau adalah dia kopi hitam paling pahit? Tidak, dia adalah si Pemalu, yang bersembunyi lewat puisi-puisi. Si Pemalu yang sulit kaumengerti.
Kaupikir dengan tidak menciptakan pertemuan akan membuat dirimu semakin membaik, akan membuat dirimu mudah lupa, ternyata sampai detik ini dia masih tempat tujuan rindumu bermuara. Dapatkah dia bayangkan saat apa pun yang terjadi dalam hidupmu seperti hanya sebuah kesia-siaan? Segala kesibukan yang kaubuat, segala waktu yang kaucuri-simpan adalah gelagat-gelagat yang kau upayakan agar tak hanya dia dalam ingatanmu.
Mungkin dapat kau tenangkan diri dengan sebatang rokok, seperti dirinya. Dia bilang setiap kali selesai merokok dia merasa tenang. Ketenangan itu, apakah kau pun juga mampu dapatkan dari sebuah tabung seukuran jari, yang berisi tembakau-tembakau kering? Setidaknya asap yang kau hebuskan dapat membentuk wajahnya, sementara saat itu juga tembakau membunuhmu perlahan. Sungguh itu ironi.
Mungkin kini dia sedang berbahagia. Berbahagialah atas doa-doaku untukmu. Begitu selalu hatimu bilang. Menulislah apa yang kau ingin tulis, jadilah seperti apa yang kau mau, dan tak perlu melihat aku, itu tugas pentingmu: mengabaikan sepotong diam yang tak henti merindu.
Andai dia dapat melihat siksaan seperti apa yang kau alami setiap kali kalian berpapasan di jalan. Bahkan kala berada di satu ruang yang sama, tanpa sapa, tanpa kata, tanpa gerak dan aba-aba. Tak ada salam pertemuan, tak ada pertanyaan “apa kabar?” dia hanya pada dunianya, kauterus berpura-pura dalam duniamu.
Tentang hari-hari yang sempat kalian lewati, kau selalu bertanya-tanya di bagian mana dirimu bermakna? Kau pikir dapat temukan itu dalam tulisannya, dalam puisi-puisi satirnya, tapi sepertinya tentang kalian tak ada yang istimewa, sehingga tak layak untuk dia tuliskan.
Ada sosok lain dalam tulisannya yang kaubaca. Fakta yang lebih pahit dari secangkir kopi pahit, dan kini kau tenggak secara paksa adalah rindumu dan rindunya tak pernah sepaham.
Beberapa hari yang lalu, langit kota begitu terik. Panasnya menjalari sampai otakmu. Kau berdoa agar hujan turun, seperti yang selalu dia minta, semata-mata agar dia dapat menulis. Hujan telah jadi syarat mutlak antara dirinya dan setiap sajak yang dia reka. Dan benar saja, hujan pun turun. Langit menangis, entah untuk kesedihan atau kegembiraan? Dan itulah yang selalu kau tanyakan, sebenarnya langit menangis karena duka atau bahagia?
Namun, hujan kali ini hanya mengantar kegetiran. Kau tak perlu hujan untuk menuliskan seribu kisah patah hati, tetapi tak pernah sanggup kauceritakan rindu yang tak lagi sepemahaman. Maka, kau muak menulis. Kau muak mencipta dirinya dalam sajak-sajak. Kau muak menggambarkan dirinya dalam setiap lambang bunyi ujaran itu. Kau muak menghabiskan lembar demi lembar halaman hanya demi menuliskan namanya.
Kau muak! Muak! Muak! Muak!
Buku catatanmu kau campakkan hingga membentur dinding kamar. Kau ingin menangis, tapi hatimu melarang. Kau ingin teriak, hatimu tetap melarang. Kau ingin mengamuk, hatimu masih melarang. Tapi mengapa untuk jatuh merindu padanya, hatimu tak pernah melarang?
Perasaan-perasaan yang membuatmu lelah, kau tertidur dalam tangis yang tak sempat tumpah, dalam kesedihan yang tak mampu air mata utarakan, dalam gelap yang menyekapmu perlahan. Ya, gelap itu, magi yang menyulap semesta batimu. Kau pun lihat dia duduk di paling pojok hatimu. Sendirian. Selajur cahaya membias di wajahnya, kau rasakan tangisan. Tangisan siapa? Dia ataukah engkau?
Siapakah engkau
Yang bersembunyi dalam jasad itu
Mengapa kuat aku terpikat padamu
Padamu atau pada jasad itu?
Kau tak tahu lagi siapa yang bertanya, dirimu ataukah dirimu yang lain. Aneh! Siapa bilang ini aneh? Ini dunia! Alam yang berbalik atau terbalik, tak ada batas untuk keanehan. Segalanya bisa terjadi bahkan tanpa alasan, bentuk-bentuk yang nyata meski kasat mata. Walau kau remukkan dunia, tetap tak mampu kau ubah persepsi setiap entitas di dalamnya. Dunia ini tempat yang memuntir dirimu untuk menangis, merindu, mencinta pada yang bisa ada atau tiada. Pada yang nyata atau ilusi semata. Dunia ini yang membuat kau menulis hingga bermimpi tentang dia yang adalah duniamu kini; tentang kini dia yang duniamu; tentang duniamu dan dia yang kini kau dalam duniamu; tentang yang dalam dia dan dalam duniamu; tentang duniamu yang ada dia, yang kini dia dalammu dalam dunianya. 
K a u
p u n
g i l a.


Sumber: google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut

Label

Wikipedia

Hasil penelusuran